Dhatu melangkahkan kakinya memasuki teras rumah yang berlokasi di area Kemang Dalam, kediaman Rudi Arsyad. Rumah bergaya scandinavian yang terasa begitu mewah itu langsung menyambutnya, lengkap dengan semringah wajah Pak Pur, asisten rumah tangga keluarga Arsyad.
Beragam jenis tanaman memeriahkan taman bagian depan. Pohon ketapang kencana yang sengaja ditumbuhkan bertahun-tahun lalu tetap masih dipertahankan keasriannya. Rumah ini menghadirkan suasana nyaman, bahkan sejak bagian depan.
Dhatu tersenyum lebar kala keindahan yang sudah lama tak ia saksikan ini tersaji di depan mata. Keindahan itu justru berlipat dari kali terakhir ia datang.
“Beneran banyak yang berubah, ya,” gumamnya.
“I told ya,” balas Orion sambil merangkul Dhatu, membawa ke sisinya.
Mereka berdua menghampiri Pak Pur yang senyumnya tak lepas sejak Dhatu turun dari mobil. “Beneran Mbak Dhatu ini? Pangling, lho, saya.” Pak Pur menyapa Dhatu.
Dhatu tersipu malu. Sudah lama ia tak menanggapi humor Pak Pur. Dulu, saat masih sering mampir ke rumah Orion, Pak Pur lah yang paling sering diajaknya bicara ketimbang sang pemilik rumah.
“Pak Pur sehat, kan? Seneng banget ngeliat Pak Pur lagi.” Dhatu berujar dengan tulus.
“Pasti Bapak lebih seneng lagi ngeliat Mbak Dhatu dateng. Monggo udah ditunggu, Mbak.” Pak Pur mempersilakan Dhatu dan Orion masuk.
Kehangatan rumah itu masih sama. Bedanya, ruangannya terasa lebih luas karena ada beberapa sekat yang dilepaskan. Terpajang pula sebuah lukisan abstrak dengan komposisi warna cerah yang memanjakan mata.
“Itu lukisan yang Papa beli buat ditunjukin ke kamu.” Orion menunjuk lukisan abstrak tersebut ke Dhatu.
Setiap barang di rumah ini tertata rapi, bahkan tidak ada ceceran makanan atau debu di lantainya. Tangan apik Mbak Yah dan ketelatenan Pak Pur dalam membersihkan rumah adalah kunci kenyamanan rumah ini. Rudi Arsyad? Sudah jelas tidak punya waktu untuk membereskannya. Orion Arsyad? Sudah tidak tinggal di rumah ini sejak kembali dari London.
Satu-satunya wanita di rumah ini adalah Mbak Yah. Beliau sudah bekerja di keluarga Arsyad sejak Orion lahir. Usianya sudah hampir sepuh, tetapi tenaganya masih seperti anak muda. Ia tidak bisa berdiam diri, karena tulangnya terasa sakit jika tidak melakukan apa-apa.
Ibu Orion sudah meninggalkan Orion dan ayahnya sejak Orion kuliah, karena sakit. Awal masuk kuliah adalah masa kelam yang Orion rasakan karena ditinggalkan oleh ibunda tercinta, dan saat itu Dhatu hadir sebagai sahabat yang mendengarkan setiap ceritanya. Meski Theo dan Rafi yang selalu membersamai Orion, Dhatu selalu punya tempat di hati Orion.
Kebersamaan mereka di kampus memang tidak intens. Tapi, Dhatu selalu paham kapan harus berada di sisi Orion, begitupun sebaliknya. Sampai pada akhirnya mereka menjalin kasih setelah masa perkuliahan berakhir.
Semua orang mengira itu adalah puncak akhir dari hubungan tanpa status mereka. Nyatanya, menjadi sepasang kekasih justru merupakan awal patah hati yang maha dahsyat bagi keduanya.
“Eh, udah dateng nih yang paling ditunggu.” Suara Rudi Arsyad menggelegar dari tangga. Beliau mengenakan celana panjang dengan kaos polo yang membungkus tubuhnya. Tak berbeda dengan putranya, tubuh Rudi Arsyad juga proporsional. Tidak buncit meski usianya sudah lebih dari 50 tahun. Soalnya, tak pernah sekalipun ia melewatkan sesi olahraga rutinnya.
Menurut Mbak Yah, ayah Orion juga selektif dalam memilih makanan. Ia hanya makan hidangan yang minim proses dan memperbanyak sayuran, buah, kacang-kacangan, dan biji-bijian. “Kayak makanan burung, Mbak,” canda Mbak Yah saat mereka bertemu di apartemen Orion beberapa waktu lalu.
“Hai, Om.” Dhatu menyapanya dengan canggung.
“Udah lama nggak ke sini, kan? Liat, deh, Om punya lukisan baru.” Rudi Arsyad benar-benar membawa Dhatu ke ruang tamu, tempat lukisan abstrak penuh warna tadi berada.